Pertanyaan :
“Pemuda yang melakukan istimna’ (masturbasi atau onani) disiang hari dibulan ramadhan, apa konsekuensi atas perbuatannya ?”
Jawaban :
Wajib untuk anda ketahui, bahwa istimna’ adalah haram, dan sama saja apakah itu dilakukan dengan tangan, atau berguling-guling ditempat tidur, atau dengan cara apa saja, karena Allah Ta’ala berfirman (tatkala memuji dan menyebutkan sifat orang beriman) :
(وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ * إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ * فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ)
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. [Surah Al-Mu’minun : 5-7].
Dan juga Nabi sallalahu alaihi wasallam memotivasi para pemuda agar segera menikah, beliau bersabda :
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ …
“Wahai para pemuda sekalian, barangsiapa diantara kalian telah mempunyai kemampuan, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu dapat menundukkan pandangan, dan juga lebih bisa menjaga kemaluan. Namun, siapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa…” [Riwayat Bukhari no. 4678 Muslim no. 2486, dan selainnya dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radiyallahu anhu].
Nabi tidak mengarahkannya kepada hal lain (yakni selain puasa), padahal (melakukan istimna’) itu lebih ringan dibandingkan puasa dan lebih mudah diterima, Meski demikian, Nabi tidaklah membimbing untuk melakukannya, seandainya hal itu dibolehkan, maka tentunya Nabi akan mengarahkan untuk melakukannya. Karena beliau adalah manusia yang paling sayang terhadap ummatnya. Oleh karena itu siapapun yang melakukan istimna’ hendaknya bertaubat kepada Allah, kemudian dia bertaubat lagi karena telah melakukannya disiang hari ramadhan, dan termasuk dari kesempurnaan taubatnya yang kedua, hendaklah ia mengganti puasanya yang pada hari tsb ia melakukan istimna’. (Yakni diganti diluar bulan ramadhan).”
*) Istimna ‘ adalah “berusaha” mengeluarkan cairan mani bukan dengan jima’ (berhubungan suami istri) namun dengan menggunakan tangan atau cara yang lain.
السؤال:
شاب استمنى في نهار رمضان، فماذا يجب عليه؟
الجواب:
الشيخ: أولاً: يجب أن تعلم أن الاستمناء محرم سواء كان باليد أو بالتمرغ على الفراش أو بأي وسيلة؛ لأن الله تعالى قال: ﴿ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ۞إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ۞فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ﴾ [المؤمنون:5-7] ولأن النبي صلى الله عليه وسلم حث الشباب على النكاح، فقال: «يا معشر الشباب، من استطاع منكم الباءة فليتزوج، فإنه أغض للبصر، وأحصن للفرج، ومن لم يستطع فعليه بالصوم» ولم يرشد النبي صلى الله عليه وسلم إلى شيء آخر مع أنه أهون من الصوم وأدعى للقبول ومع ذلك لم يرشد إليه النبي صلى الله عليه وسلم. فلو كان جائزاً لأرشد إليه الرسول عليه الصلاة والسلام لأنه أشد الناس رأفة بأمته، فعلى هذا الذي فعل أن يتوب إلى الله من الاستمناء نفسه، ثم عليه أن يتوب توبة أخرى من كونه فعل ذلك في نهار رمضان، ومن تمام توبته في المسألة الثانية أن يقضي اليوم الذي فعل فيه هذا الاستمناء.
(Al-Allamah Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rahimahullah, Sumber Fatwa : Silsilah Liqo’at Al-Bab Al-Maftuh/Liqo’ Al-Bab Al-Maftuh/Ash-Shiyam/Mufsidaat Ash-Shaum, no. 151)
3 Romadhon 1445 H
✍️KAA..
