Jalan yang Lurus

man walking on asphalt road at middle of leafless treeJalan yang lurus

Allah Ta’ala berfirman :
وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ
Dan hendaklah kamu hanya menyembah-Ku, inilah jalan yang lurus (Yasin : 61)

Al hafidz Ibn Katsir rohimahullah ketika menafsirkan ayat “dan sembahlah aku” tersebut berkata : “telah aku perintahkan kamu di dunia untuk menyelisihi syaithon, dan Aku perintahkan kamu untuk beribadah hanya kepada-Ku (dengan mentauhidkan-Ku) [Fathul Karim Li mukhtashor tafsir Al-Quran al ‘Adzim Li ibn Katsir hal 985]

Adapun ketika menafsirkan ayat Inilah jalan yang lurus beliau rohimahullah meriwayatkan Adh-Dhahak berkata dari Ibnu ‘Abbas bahwa jalan tersebut adalah jalan yang diberi nikmat dengan melakukan ketaatan dan ibadah pada Allah. Jalan tersebut telah ditempuh oleh para malaikat, para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang saleh
Hal ini seperti yang dikatakan oleh Allah,
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya (QS. An-Nisa’: 69). [Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:214]

Maka mentauhidkan Allah dalam seluruh ibadah yang kita kerjakan adalah jalan yang harus kita tempuh, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Solih Al-Utsaimin rohimahullah ketika menafsirkan ayat diatas, beliau berkata :
الصراط هنا هو التوحيد المشار إليه ترك عبادة الشيطان وإفراد الله بالعبادة
Jalan lurus yang dimaksud dalam ayat ini adalah tauhid dengan meninggalkan peribadatan kepada syaithon dan mentauhidkan Allah dalam seluruh peribadatan [tafsir Yasin ayat 61, Syaikh Al-Utsaimin, maktabah syamilah hal 216].

Begitupun ibadah puasa, qiyam, sedekah dll pada bulan inipun dipersyaratkan untuk ikhlas dengan mentauhidkan Allah dalam mengerjakannya, sebagiamana Al Imam Bukhori meriwayatkan hadits, dari Abu huroiroh, Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda : barangsiapa yang berpuasa di bulan romadhon dengan iman dan mengharap pahala disisi Allah, maka dosanya yang lalu pasti diampuni
Dalam faidul Qodir, Al Imam Al Munawi rohimahulalh berkata :
من صام رمضان إيمانا يعني تصديقا بثواب الله أو أنه حق.
Barangsiapa yang berpuasa romadhon dengan iman yakni “membenarkan pahala Allah, atau bahwasanya pahala itu benar”
إحتسابا يعني لأمر الله به، طالبا الأجر أو إرادة وجه الله لا لنحو رياء،
ihtisaban semata karena menunaikan perintah Allah, dengan mengharapkan pahala atau berharap wajah Allah tidak karena Riya [ditujukan kepada selain Allah]
فقد يفعل المكلف الشيء معتقدا أنه صادق لكنه لا يفعله مخلصا بل لنحو خوف أو رياء.
Karena terkadang sebagaian muallaf itu malakukan sesuatu dengan meyakini bahwa hal itu benar, akan tetapi dia tidak melakukan hal tersebut dengan ikhlas, namun karena takut atau Riya”..

Semoga Allah Memberikan kemudahan bagi kita untuk mentauhidkan-Nya dalam seluruh peribadatan dan kita berlindung kepada-Nya dari menyekutukan-Nya dalam seluruh amal-amal solih kita.

BaarokAllahu fiikum
Wawaqomkumullah jami’an
Akhukum fillah ✍️KAA

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top