Umurmu adalah kebahagian atau kesengsaraanmu
Hari-hari ini tidaklah asing bagi kita istilah kaum rebahan, hidup itu jalani dengan santuy dan istilah-isitilah kekinian yang digunakan untuk melegalkan bermalas-malasan, santai, bahkan cenderung menyia-nyiakan waktu.
Padahal waktu yang Allah berikan kepada kita itu sangat terbatas, sementara dari waktu yang sangat terbatas ini benar-benar menentukan sukses atau tidaknya kehidupan kita baik di dunia maupun akhirat.
Adapun kesukesan akhirat maka tolak ukurnya adalah firman Allah dalam surat Ali Imron:
فمن زحزح عن النار وأدخل الجنة فقد فاز
Barangsiapa yang diselamatkan dari neraka dan dimasukan kedalam syurga, maka merekalah orang yang beruntung
Keberuntungan berupa syurga dalam ayat tersebut pun bertingkat-tingkat, Sebagaimana Allah berfirman
وَلِكُلٍّ دَرَجَٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوا۟
“Bagi setiap orang derjat yang sesuai dengan amalan yang telah mereka kerjakan didunia” [Al An’am ayat 132, Al Ahqof ayat 19].
Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwasanya derajat manusia berbeda-beda, Allah tidaklah menyamakan kedudukan seseorang di surga dalam satu kondisi. Tapi Allah beda-bedakan. yang membedakan itu adalah amal shalehnya. Sementara modal dalam beramal solih adalah umur yang akan menentukan derajat kita.
Bahkan Nabi shollallahu ‘aliahi wasallam kaitkan antara kebaikan dengan umur, sebagiamana al Al-Imam at-Tirmidzi meriwayatkan, dari Abdullah bin Busr rodhiyallahu ‘anhu berkata,
أنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ «مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ
Datang seorang Arab badui dan berkata: wahai Rosulullah, siapakah manusia terbaik? Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “barangsiapa yang panjang umurnya dan baik amalanya”
Maka sudah selayaknya kita memanfaatkan umur yang Allah karuniakan kepada kita untuk berlomba-lomba didalam ketaatan, didalam kebajikan dalam beramal solih, meskipun mungkin ada di antara kita yang baru bertaubat, atau mengenal islam, atau baru mendalami agama setelah sebelumnya terlalaikan atau baru mendapatkan hidayah ketika tua, ataupun bahkan tenggelam dalam dosa. Maka tidak ada kata terlambat, bertaubatlah, perbaiki diri, dan berlomba-lombalah serta kejarlah keterlambatan tersebut dengan bersungguh-sungguh didalam beramal solih. Lihatlah sahabat Nabi, Saad bin Muadz rodhiyallahu ‘anhu. Ia memeluk Islam kurang lebih selama tujuh tahun. Tapi ketika dia meninggal, Nabi ﷺ bersabda,
اهتز عرش الرحمن لموت سعد بن معاذ
“Arsy Allah Ar-Rahman bergetar karena wafatnya Saad bin Muadz.” [HR. Bukhari dan Muslim].
Mengapa bisa demikian? Karena selama tujuh tahun tersebut ia maksimalkan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga Allah panjangkan umur kita diatas ketaatan dan amal solih,
baarokAllahu fiikum
14 romadhon 1445 H
Akhukum fillah ✍️KAA
